4 Langkah Sebelum Mengambil Beasiswa S2 di Luar Negeri

Lanjut kerja atau kuliah sekali lagi ya? Pertanyaan itu seringkali keluar tidak lama selesai mahasiswa merampungkan waktu studinya di strata satu (S1). Keinginan untuk menuntut pengetahuan di tahap yang lebih tinggi atau mulai karier membayang-bayangi setiap waktu.

Untuk kalian yang pilih untuk meneruskan studi strata dua (S2), ada dua pilihan yang dapat diambil, satu diantaranya dengan pilih meneruskan S2 ke luar negeri.

Meneruskan S2 ke luar negeri pasti memerlukan cost yang begitu besar. Tidak cuma itu, masalah yang lain umpamanya berkaitan dengan beberapa perizinan juga harus diperlengkapi.

Masalah masalah cost besar, jalan keluar yang dapat ditempuh dengan mencari beasiswa. Tetapi, persaingan perebutan memperoleh beasiswa S2 ke luar negeri demikian ketat.

Kekuatan intelektual saja kurang ‘memenangkan’ beasiswa S2 luar negeri. Tetapi ada hal-hal lain diluar aspek intelektualitas yang harus disiapkan serta diperlengkapi oleh tiap-tiap orang.

Karena itu, hukumonline coba merangkum beberapa hal apa sajakah yang harus disiapkan sebelumnya kalian mencari beasiswa S2 ke luar negeri.

Inilah 4  langkah yang dapat dikerjakan sebelumnya ambil beasiswa S2 ke luar negeri.

1. Tetapkan Kampus
Hal pertama yang harus dikerjakan yaitu memastikan universitas mana yang sesuai sama yang dikehendaki. Ini jadi perlu karna waktu kita ketahui serta telah memastikan universitas yang dituju, jadi kita semakin lebih konsentrasi terlebih dalam mencari info yang dibutuhkan. Umpamanya saja yang dikerjakan oleh Anisa Widyasari, Alumni FH Unpad angkatan 2006.

Ketertarikan Anisa pada bagian Kekayaan Intelektual (KI) waktu kuliah S1 mengarahkan penelusurannya ke beberapa universitas diluar negeri yang unggul dalam bagian KI. “HAKI (saat ini KI) tertarik banget, jadi saya telah dari jaman kuliah telah mencarinya kurang lebih universitas mana yang HAKI-nya bagus.

Jadi lebih khusus sekali lagi saya tertarik banget sama pengetahuan tradisionil, ” tuturnya waktu dihubungi hukumonline, Sabtu (26/9)

Selanjutnya, Anisa menyebutkan, keuntungan yang didapat waktu telah memastikan universitas mana yang akan dituju akan di rasa saat kelak masuk sistem belajar di universitas itu.

Bila telah konsentrasi pemilihan universitas mulai sejak awal, jadi akan menolong waktu memahami materi kuliah. Serta selanjutnya, penulisan thesis dapat lebih gampang.

Diluar itu, manfaat yang beda yang didapat umpamanya beberapa kriteria yang disuruh universitas juga telah di ketahui mulai sejak awal. ”Kalau sudah mengetahui kampusnya, kita ketahui universitas itu perlu kriteria apa saja, ” paparnya.

Anisa juga menyebutkan, bila universitas yang diambil itu termasuk juga dalam Top 20 Dunia, hal tersebut jadi keuntungan sendiri. Tetapi, yang paling utama tidaklah pada masalah posisi berapakah universitas itu ada. Namun yang lebih perlu yaitu posisi jurusan yang akan di ambil di satu universitas itulah yang harus di pikirkan.

“Misalkan dia di posisi dunia ngga sangat bagus. Namun spesial untuk di bagian itu dia bagus. Bila menurut saya sich semakin bagus gitu, ” kata jebolan The Universityof Edinburgh th. 2014-2015 ini.

Seirama dengan Anisa, Lulusan FH UI angkatan 2006, Lita Paromita Siregar juga menilainya bila ranking yang harus diliat yaitu ranking pada program studinya. Umpamanya saja, posisi Durham University tidak tambah baik dari Oxford University, tetapi spesial untuk jurusan Ekonomi Syariah, Durham University malah lebih unggul. “Tapi kita janganlah saksikan ranking universitas namun saksikan ranking program studinya, ” katanya.

Terkecuali karna argumen ranking, pilihan Lita jatuh ke Durham University, karena ia memproyeksikan bila industri keuangan syariah di Inggris akan berkembang cepat. “Yang terutama saksikan chance ke depan kaya keuangan syariah paling berkembang di negara mana. Penentuan negara juga diliat dari sana, ” tuturnya.

2. Kompliti Sebagian Prasyarat
Pada intinya tiap-tiap universitas mempunyai beberapa kriteria yang berlainan. Tetapi, jadi referensi, beberapa prasyarat ini umumnya harus dilampirkan jadi prasyarat peroleh beasiswa. Kriteria itu, diantaranya sertifikat IELTS, surat referensi dengan akademik atau profesional, cover letter, motivation letter, sampai future rencana.

Disebutkan Anisa, kriteria itu dapat di ketahui bila mulai sejak awal kita telah memastikan universitas mana yang akan diambil. “Misalnya perlu score IELTS yang dibutuhin berapakah, jadi kita ketahui targetnya berapakah, ” sebutnya.
Untuk recommendation Letter, Anisa merekomendasikan supaya memohon pada orang yang memanglah ketahui dan mengetahui pribadi kita dengan baik.

Pengalaman Anisa waktu itu, dia memohon surat referensi itu pada satu diantara dosen di FH Unpad. Hal semacam ini telah jadi rutinitas untuk memohon surat referensi dari professor yang mempunyai banyak titel dibelakang namanya.

“Menurut pengalaman saya tambah baik minta ke orang yang betul-betul kenal sama kita. Sama dosen yang kerja bareng sama saya, jadi tahu banget saya bagaimana, ” usulnya.

Sedang bila untuk Lita, dia merekomendasikan supaya surat referensi dapat meng-cover dari dua bagian, yaitu bagian akademik dan bagian professional. Umpamanya dari bagian non-akademik atau professional, dianya memohon referensi dari organisasi tempatnya aktif berkegiatan, yaitu pada pembina prganisasi Mom and Baby Center, Heru Susetyo.

“Kalau dapat sich cover dari dua, akademik serta keaktifan organisasi, ” Kata Lita, penerima beasiswa LPDP yang akan pergi pada th. 2016 kelak.

3. Perlu! Untuk Kantongi LOA
Ini hal perlu yang harus dipenuhi oleh calon penerima beasiswa. sertifikat letter of acceptance (LOA) yaitu surat yang menyebutkan bila calon mahasiswa di terima di universitas yang dituju. Walau tidak semuanya program beasiswa mewajibkan untuk menyertakan LOA waktu mendaftar namun langkah tersebut mungkin saja kiat tepat supaya dapat memperoleh beasiswa.

“Mereka bahkan juga lebih suka bila kita telah miliki LOA sendiri. Kaya kita telah ada effort-nya sendiri, itu jadi nilai lebih saat kita apply beasiswa ke mereka. Kita telah terang fokusnya ngga hanya asal ingin daftar beasiswa  luar negeri, ” tutur Anisa.

Walaupun Demikian, kepemilikan LOA keadaanonal. “LOA dapat conditional serta unconditional, bila conditional umumnya karna IELTS kita ngga memenuhi. Kita dapat di terima disana bila tes IELTS lagi. Bila unconditional kita bermakna telah keterima, tinggal mengurus pembayaran saja, ” tuturnya.

4. Tentukan Beasiswa yang Sesuai
Langkah yang lain, lanjut Anisa, yaitu penentuan beasiswa yang sesuai sama maksud kita ambil S2 ke luar negeri. Seperti yang dianya kerjakan, yaitu memperoleh beasiswa dari Instansi Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mensyaratkan supaya sesudah lulus S2 harus kembali sekali lagi ke Indonesia. Ketetapan itu dinilai Anisa searah dengan maksudnya mulai sejak awal hingga dia pilih program beasiswa dari LPDP itu.

“Kita mesti terang kemauan keluar ini ingin apa. Bila saya kemauan keluar dari pertama karna memanglah ingin pulang sekali lagi ke Indonesia. Jadi, bila untuk beasiswa seperti LPDP itu mengharuskan kita kembali pada Indonesia sesudah kita usai beasiswa, ” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *