Kontraktor Kubah Masjid di Timika Papua Tengah

Kontraktor Kubah Masjid di Timika Papua Tengah

Kontraktor Kubah Masjid di Timika Papua Tengah

Pada suatu tengah malam, ibu Masitoh baru menutup laptopnya. Ibu Masitoh belum menyelesaikan pekerjaannya. Beliau menyiapkan berbagai file-file penting untuk para karyawan dan konsumennya. Beliau selalu meneliti juga hasil pekerjaan para pegawai hari itu. Saat itu semua keluarganya yang lain sedang tertidur tetapi beliau masih terjaga dalam matanya di depan laptop merahnya. Ibu Masitoh seorang kontraktor kubah masjid di Timika. Sudah hampir lima tahun beliau mengerjakan pekerjaannya hingga larut malam seperti ini. Beliau tidak begitu menghiraukan jika dibilangi keluarganya jika sering tidur malam menyebabkan berbagai penyakit mudah datang. Karena memang tuntunan pekerjaan yang dia jalani sehingga beliau tidak menghiraukan pekerjaannya.

Malam itu sedang malang nasib ibu Masitoh. Beliau mendapat telepon jika karyawannya yang bagian pembuatan kubah masjid sedang sakit strok di rumah sakit. Ibu Masitoh sangat kaget dan ingin pergi menjenguknya, namun waktu sudah malam. Beliau kemudian mengurungkan niatnya tersebut. keesokan harinya ibu Masitoh pergi ke rumah sakit melihat keadaan karyawannya. Ternyata karyawannya masih bisa mengingat dan meminta ma’af karena pengerjaan kubah masjid yang di kirim ke salah satu konsumen besok lusa masih setengah jadi semua. Dengan sedikit perasaan agak bingung ibu Masitoh hanya tersenyum dan mengatakan sudah yang penting bapak sehat dahulu saja. Setelah beberapa menit, ibu Masitoh langsung pergi dari rumah sakit dan menghubungi teman-temannya sesama kontraktor kubah masjid untuk menanyakan dimana pengerjaan kubah masjid yang masih kosong. Dari kesekian temannya tidak ada yang mengetahuinya. Ibu Masitoh yang kebingungan akhirnya pergi langsung ke kantor. Sesampainya di kantor, salah satu pegawainya menanyakan keadaan ibu Masitoh yang terlihat seperti orang linglung. Disambung pula pegawai tersebut mengatakan ada pengrajin pembuat kubah masjid di tetangganya. Banyak kontraktor kubah masjid yang datang ke tetangga saya untuk dibuatkan kubah masjid. Mendengar hal tersebut ibu Masitoh ingin bertemu langsung dengan pengrajinnya sekarang juga. Dan pegawai tersebut menunjukkan rumahnya.

Sesampainya di rumah tetangga karyawannya tersebut, ada teman ibu Masitoh sesame kontraktor kubah masjid yang baru keluar mengambil pesanannya dari pengrajin tersebut. Beliau saling tegur sapa sambil bertukar informasi jika di situ sudah penuh pesanannya. Namun, ibu Masitoh dan karyawannya tetap masuk untuk menemui pengrajin tersebut. Pengrajin ini ternyata teman ibu Masitoh saat masih sekolah menengah atas dahulu. Langsung saja pengrajin ini menyapa ibu Masitoh dengan wajah yang sedikit kaget. Kemudian ibu Masitoh menceritakan yang beliau alami hingga diajak karyawannya menginjakkan kakinya di situ. Dengan sedikit memohon ibu Masitoh membujuk temannya agar bisa menyelesaikan kubah masjid yang dipesannya. Sang pengrajin yang tidak bisa menolaknya kemudian sanggup mengerjakan dalam waktu tiga hari. Dengan sedikit lega ibu Masitoh mau dari pada nantinya mengecewakan konsumen karena barang tidak bisa jadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *